PENGOLALAHAN KELAS DENGAN MENGACU
PADA TEORI PEMBELAJARAN
Sandora Nurgita Prahara
2014820230
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
Jln. Ki Mangun Sarkoro No 45 Kota
Bekasi
ABSTRACT
Classroom
management is the management that gives autonomy to the teacher or manager to
manage all the resources owned directly participatory manner by involving all
citizens to learn to improve the quality of education by the national graduation
satndar
I . PENDAHULUAN
Sekolah
adalah tempat belajar bagi siswa, dan tugas guru adalah sebagian besar terjadi
dalam kelas adalah membelajarkan siswa dengan menyediakan kondisi belajar yang
optimal. Kondisi belajar yang optimal dicapai jika guru mampu mengatur siswa
dan sarana pengajaran serta mengendalikanya dalam situasi yang menyenangkan
untuk mencapai tujuan pelajaran.
Dalam
kelas segala aspek pembelajaran bertemu dan berproses, guru dengan segala
kemampuannya, murid dengan segala latar belakang dan potensinya, kurikulum
dengan segala komponennya, metode dengan segala pendekatannya, media dengan
segala perangkatnya, materi serta sumber pelajaran dengan segala pokok
bahasannya bertemu dan berinteraksi di dalam kelas.
Kegiatan
guru di dalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas.
Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan
seperti menelaah kebutuhan siswa, menyusun rencana pelajaran, menyajikan bahan
pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa, menilai kemajuan
siswa adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas
bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana (kondisi) kelas agar kegiatan
mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan-efisien. Memberi ganjaran
dengan segera, mengembangkan hubungan yang baik antara guru dan siswa,
mengembangkan aturan permainan dalam kegiatan kelompok adalah contoh-contoh
kegiatan mengelola kelas.
Kegagalan
seorang guru mencapai tujuan pembelajaran berbanding lurus dengan
ketidakmampuan guru mengelola kelas. Indikator dari kegagalan itu seperti
prestasi belajar murid rendah, tidak sesuai dengan standar atau batas ukuran
yang ditentukan. Karena itu, pengelolaan kelas merupakan kompetensi guru yang
sangat penting.
II. PEMBAHASAN
A. Pengelolaan Kelas
Kata
manajemen berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata manus yang berarti tangan
dan agree berarti melakukan. Kata-kata itu digabung menjadi kata kerja manager
yang artinya menangani. Managere diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris dalam
bentuk kata kerja to manage, dengan kata benda management, dan manager untuk
melakukan kegiatan manajemen. Akhirnya, management diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia menjadi manajemen atau pengelolaan (Usman, 2004).
Suharsimi
mengatakan bahwa manajemen atau pengelolaan adalah pengadministrasian,
pengaturan atau penataan suatu kegiatan (Djamarah, 2006:175).
Secara
umum, manajemen adalah suatu kegiatan
untuk menciptakan dan memertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar di dalamnya mencakup pengaturan siswa dan
fasilitas, yang dikerjakan mulai
terjadinya kegiatan pembelajaran di dalam kelas sampai berakhirnya pembelajaran
di dalam kelas.
Sedangkan
pengertian umum mengenai kelas, yaitu
sekelompok siswa pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari guru
yang sama pula.
Sementara
itu, menurut Oemar Hamalik (1987:31) menjelaskan “kelas adalah suatu kelompok
orang yang melakukan kegiatan belajar bersama yang mendapat pengajaran dari
guru”. Sedangkan menurut Ahmad (1995:1) “kelas adalah ruangan belajar atau
rombongan belajar”. Sulaeman (2009) mengartikan bahwa kelas dalam arti umum
menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama
menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula. Kelas dalam arti
luas merupakan bagian dari masyarakat kecil yang sebagian adalah suatu
masyarakat sekolah yang sebagian suatu kesatuan di organisasi menjadi unit
kerja secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan.
Definisi
pengelolaan kelas atau pengelolaan kelas yang dipetik dari informasi Pendidikan
Nasional bahwa ada lima definisi pengelolaan kelas sebagaimana berikut ini.
Pengelolaan kelas yang bersifat otoritatif, yakni
seperangkat kegiatan guru untuk menciptakan dan memertahankan ketertiban
suasana kelas, disiplin sangat diutamakan.
Pengelolan
kelas yang bersifat permisif, yakni pandangan ini menekankan bahwa tugas guru
adalah memaksimalkan perwujudan kebebasan siswa. Dalam hal ini guru membantu
siswa untuk merasa bebas melakukan hal yang ingin dilakukannya. Berbuat
sebaliknya berarti guru menghambat atau menghalangi perkembangan anak secara
alamiah.
Pengelolaan kelas
yang berdasarkan prinsip-prinsip
pengubahan tingkah laku (behavioral modification), yaitu seperangkat kegiatan
guru untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan dan mengurangi atau
meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan. Secara singkat, guru membantu
siswa dalam mempelajari tingkah laku yang tepat melalui penerapan
prinsip-prinsip yang diambil dari teori penguatan (reinforcement).
Pengelolaan
kelas sebagai proses penciptaan iklim sosio-emosional yang positif di dalam
kelas. Pandangan ini mempunyai anggaran dasar bahwa kegiatan belajar akan
berkembang secara maksimal di dalam kelas yang beriklim positif, yaitu suasana
hubungan interpersonal yang baik antara guru dengan siswa dan siswa dengan
siswa. Untuk terciptanya suasana seperti ini guru memegang peranan kunci.
Peranan guru adalah mengembangkan iklim
sosio-emosional kelas yang positif melalui pertumbuhan hubungan interpersonal
yang sehat. Dengan demikian, pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan guru
untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik dan iklim sosio-emosional
kelas yang positif.
Pengelolaan
kelas yang bertolak dari anggapan bahwa kelas merupakan sistem sosial dengan
proses kelompok (group process) sebagai intinya. Dalam kaitan ini dipakailah
anggapan dasar bahwa pengajaran berlangsung dalam kaitannya dengan suatu
kelompok. Dengan demikian, kehidupan kelas sebagai kelompok dipandang mempunyai
pengaruh yang amat berarti terhadap kegiatan belajar, meskipun belajar dianggap
sebagai proses individual. Peranan guru adalah mendorong berkembangnya dan
berprestasinya sistem kelas yang efektif. Dengan demikian, pengelolaan kelas
adalah seperangkat kegiatan guru untuk menumbuhkan dan memertahankan organisasi
kelas yang efektif (Depdikbud, 1982).
Disimpulkan
bahwa pengelolaan kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja
dilakukan oleh guru dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya
proses belajar mengajar di kelas. Pengelolaan kelas sangat berkaitan dengan
upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi
terjadinya proses belajar (penghentian perilaku peserta didik yang
menyelewengkan perhatian kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh
peserta didik secara tepat waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di
dalamnya mencakup pengaturan orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.
Dalam
pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting yaitu guru dan
siswa. Guru dalam menjalankan fungsinya tidak hanya bertindak sebagai penyampai
materi pelajaran tetapi juga dapat berfungsi selaku pengelola atau “manager”
kelas. Siswa ditempatkan tidak hanya sebagai obyek yang menjadi sasaran
pembelajaran tetapi juga dapat diposisikan sebagai subyek yang dinamis dan ikut
dilibatkan dalam proses atau kegiatan pengelolaan kelas.
B. Model-Model dalam Pengelolaan Kelas
Terdapat beberapa model dalam pengelolaan
kelas yang dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran, yaitu model
humanistik, model democratik, model behavioristic dan model konstruktivis.
1. Model Humanistic
Aplikasi teori belajar humanistik dalam
prakteknya cenderung mendorong mahasiswa untuk berpikir induktif (dari contoh
ke konsep, dari konkrit ke abstrak, dari khusus ke umum, dan sebagainya). Teori
ini mementingkan faktor pengalaman (keterlibatan aktif) mahasiswa di dalam
proses belajar.
Prinsip-prinsip
dasar humanistik yang penting diantaranya ialah;
a. Manusia
itu mempunyai kemampuan belajar secara alami.
b. Belajar yang signifikan terjadi apabila materi
pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c. Belajar yang menyangkut perubahan di dalam
persepsi mengenai dirinya sendiri dianggap mengancam dan cenderung untuk
ditolaknya.
d. Tugas-tugas
belajar yang mengancam diri ialah lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan
apabila ancaman-ancaman dari luar itu semakin kecil.
e. Apabila
ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman dapat diperoleh dengan berbagai
cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses belajar.
f. Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan
melakukannya.
g. Belajar
diperlancar bilamana siswa dilibatkan dalam proses belajar dan ikut
bertanggungjawabterhadapprosesbelajaritu.
h.
Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi siswa seutuhnya, baik
perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat memberikan hasil yang
mendalam danlestari.
i. Kepercayaan
terhadap diri sendiri, kemerdekaan, kreativitas, lebih mudah dicapai terutama
jika siswa dibiasakan untuk mawas diri dan mengritik dirinya sendiri dan
penilaian dari orang lain merupakan cara kedua yang penting.
j. Belajar
yang paling berguna secara sosial di dalam dunia modern ini adalah belajar
mengenai proses belajar, suatu keterbukaan yang terus menerus terhadap
pengalaman dan penyatuannya ke dalam diri sendiri mengenai proses perubahan
itu.
Model
humanistic dalam pengelolaan kelas menekankan pada faktor keunikan dan rasa
dignity setiap individu pebelajar. Orientasi pendekatannya lebih condong ke
student-centered. Pada model ini, intervensi pembelajar sangat dikurangi,
bahkan lebih menitikberatkan pada partisipasi aktif pebelajar dalam proses
pembelajaran di kelas, sistem supervise, dan pengembangan internal individu
pebelajar. Model ini dikembangkan oleh Carl Roger.
Menurut
Rogers dan Freiberg (1994), tujuan dari model humanistic dalam pengelolaan
kelas adalah perkembangannya self-descipline (disiplin diri) pebelajar.
self-descipline diartikan sebagai pengetahuan
dan pemahaman mengenai diri sendiri dan kegiatan-kegiatan yang
dibutuhkan untuk menumbuhkan dan mengembangkan diri sebagai seseorang. Tujuan
inilah yang harus di fasilitasi oleh pembelajar sebagai fasilitator dan bukan
manajer kelas. Sebagai fasilitator, pembelajar di tuntut dapat memberikan
fasilitasyang mampu mengakomodir seluruh potensi berkembang pebelajar, agar
pebelajar dapat terlibat aktif dalam pembelajaran.
Michael
Marland (1975) juga mendiskripsikan beberapa strategi yang dapat dikembangkan
dalam pengelolaan kelas model humanistic, yang mencakup:
a. Mempedulikan
pebelajar (caring for children),
pembelajar harus menunjukkan sikap peduli kepada pebelajar.
b. Membuat aturan (setting rules).
c. Memberikan penghargaan (giving legtimate
praise).
d. Menggunakan humor (using humor).
e. Merancang dan membentuk lingkungan belajar
(shaping the learning environment).
2. Model Demokratik
Model
demokratik juga sangat menghargai perbedaan dan hak-hak individual
pebelajar,dan bahkan menekankan pada pentingnya kebebasan bersuara. Model ini,
para pebelajar diberikan hak dan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam
mengambil keputusan mengelola kelas mereka. Pembelajaran yang diterapkan adalah
relatively student-centerd. Pada saat
yang sama pula, peran pembelajar dalam mengelola kelas juga besar. Terkadang
para pembelajar diharapkan mampu menunjukkan alasan yang rasional untuk
menerima perilaku pebelajar. Model ini diperkenalkan oleh Kounin dan Dreikurs.
Kounin
(1970) menyatakan bahwa pembelajar yang sukses dalam mencegah perilkau yang
menyimpang dari para pebelajar adalah lebih penting daripada hanya melakukan
tindakan penanganan terhadap perilaku menyimpang pada saat perilaku tersebut
terjadi. Dalam peribahasa indonesia dikenal dengan “mencegah lebih baik
daripada mengobati”.
Ada tiga
cara bagi para pembelajar yang dapat digunakan untuk memprtahankan dan
memelihara focus pebelajar dalam proses pembelajaran. Yaitu:
a.
Mengembangkan cara-cara yang dapat membuat para pebelajar memiliki sikap
tanggung jawab, seperti: pemberian tugas individual, presentasi, produk dan uji
kompetensi.
b. Menggunakan kelompok, dan
c. Memformat
kelas atau materi pelajaran yang minim dengan kebosana.
3. Model Behaviristik
Behavioristik
merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain,
behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai
individu.
Teori
behavioristik mengatakan bahwa belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang
dianggap telah belajar sesuatu jika ia telah mampu menunjukkan perubahan
tingkah laku. Pandangan behavioristik mengakui pentingnya masukan atau input
yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Sedangkan
apa yang terjadi di antara stimulus dan respons dianggap tidak penting diperhatikan
sebab tidak bisa diamati dan diukur. Yang bisa diamati dan diukur hanyalah
stimulus dan respons.
Model
Behaviristik dalam pengelolaan kelas menekankan pada peran vital pembelajar dan
arahan atau instruksi dari pembelajar. Hal ini didasarkan Atas keyakinan bahwa
perilaku menyimpang merupakan hasil dari kegagalan untuk mempelajari perilaku
yag di inginkan. Model ini menganjurkan adanya atau diberlakukannya
konsekwensi-konsekwensi perilaku dalam usaha meminimilasi masalah di kelas,
disamping menggunakan perilaku- perilaku tersebut untuk mengoreksi jika
perilaku menyimpang tersebut diulang atau terjadi kembali. Model ini berasal
dari teori operant conditioning skinner, dan model assertive dari canter.
Titik
tekan model Behaviristik adalah pada modifikasi perilaku yang dianggap sebagai
aspek korektif. Dengan demikian, jika ada perilaku menyimpang, maka perlu
dilakukan koreksi dengan tujuan untuk meminimilasi atau mengubah perilaku
tersebut.
model
Behaviristik dalam pengelolaan kelas dijalankan secara kaku dan berstandar,
jika ada pebelajar melakukan kesalahan seperti: berbicara keras, atau
lari-lari, maka mereka akan bertindak dengan hukuman melalui pengurangan
point-point yang di dapatkan sebelumnya. Dalam model ini, penggunaan
reinforcement (penguatan) juga lebih diberikan, dengan tujuan untuk
meminimalisir dan mengontrol perilaku menyimpang para pebelajar.
4. Model Konstruktivis
Teori
belajar kontruktivistik memahami belajar sebagai proses pembentukan
(konstruksi) pengetahuan oleh si belajar itu sendiri. Pengetahuan ada dalam
diri seseorang. Si pelajar dihadapkan kepada lingkungan belajar yang bebas.
Kontruktivistik menekankan perkembangan konsep dan pengertian yang mendalam ,
pengetahuan sebagai konstruksi aktif yang dibuat siswa.
Jika
seseorang tidak aktif membangun pengetahuannya , meskipun usianya tua tetap
tidak akan berkembang pengetahuannya . Suatu pengetahuan diangap benar bila
pengetahuan itu berguna menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang
sesuai. Pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja, melainkan harus
diinterpretasikan sendiri oleh masing – masing orang.
Model
ini merupakan terjemahan dari konsep Deporter (2000) yaitu mengorkestrasi
lingkungan yang mendukung. Sebagai pancaram dari aliran konstruktivis,
tentunyan model ini lebih berpihak pada pendekatan pembelajaran
student-centered seperti pada model humanistik dan model demokratik.
Senada
dengan Dick, Degeng (2000) mengemukakan bahwa pembelajaran berbasiskan
konstruktivisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut;
a. Pengetahuan
adalah non-objektif, temporer, selalu berubah dan tidak menentu.
b. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari
pengalaman kongkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi.
c. Mengajar adalah menata lingkungan agar siswa
termotivasi dalam menggali makna serta menghargai ketidakmenentuan.
d. Mind berfungsi sebagai alat untuk
menginterpretasi peristiwa, objek atau prespektif yang ada dalam dunia nyata
sehingga muncul makna yang unik dan individualistik.
e. Si pembelajar bisa memiliki pemahaman yang
berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari.
f. Segala sesuatu bersifat temporer, berubah,
dan tidak menentu.
g. Ketidakteraturan.
h. Si pebelajar dihadapkan kepada lingkungan
belajar yang bebas.
i. Kebebasan merupakan unsur yang sangat
esensial.
j. Kontrol belajar di pegang oleh si pebelajar.
k. Tujuan
pembelajaran menekankan pada penciptaan pemahaman, yang menuntut aktivitas
kreatif-produktif dalam konteks nyata.
l. Penyajian isi menekankan pada penggunaan
pengetahuan secara bermakna mengikuti urutan dari keseluruhan ke bagian
(deduktif).
m. Pembelajaran lebih banyak di arahkan
untuk meladeni pertanyaan atau pandangan si pebelajar.
III Kesimpulan
Pengelolaan
kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakukan oleh guru
dengan tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar
mengajar di kelas. Pengelolaan kelas sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk
menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses
belajar (penghentian perilaku peserta didik yang menyelewengkan perhatian
kelas, pemberian ganjaran, penyelesaian tugas oleh peserta didik secara tepat
waktu, penetapan norma kelompok yang produktif, di dalamnya mencakup pengaturan
orang (peserta didik) dan fasilitas yang ada.
Dalam
pengelolaan kelas terdapat dua komponen yang sangat penting yaitu guru dan
siswa.
Adapun
tujuan secara umum dari pengelolaan kelas:
1. Agar pengajaran dapat dilakukan secara
maksimal, sehingga tujuan pengajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.
2. Untuk memberi kemudahan dalam usaha
memantau kemajuan siswa dalam pelajarannya. Dengan pengelolaan kelas, guru
mudah untuk melihat dan mengamati setiap kemajuan/perkembangan yang dicapai
siswa, terutama siswa yang tergolong lamban.
Untuk
memberi kemudahan dalam mengangkat masalah-masalah penting untuk dibicarakan
dikelas demi perbaikan pengajaran pada masa mendatang.
Dalam
pengelolaan kelas harus diperhatikan dengan strategi yang efektif:
1.
Memulai pelajaran tepat waktu.
2. Menata
tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antar format dan tujuan
pengajaran, misalnya untuk pengajaran dengan menggunakan model diskusi, bangku
siswa dibentuk setengah lingkaran.
3. Mengatasi
gangguan dari luar kelas.
4. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas
dan dapat dilaksanakan dengan konsisten.
5. Peralihan
yang mulus antar segmen pelajaran.
6. Siswa yang berbicara pada saat proses
belajar mengajar berlangsung.
7. Pemberian pekerjaan rumah.
8. Mempertahankan
momentum selama pelajaran
Daftar
Pustaka
Imam, Azhar. 2013. Pengelolaan Kelas
dari Teori ke praktek. Yogyakarta.
Insyira.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar